Mau hidup lebih INDAH ??
Belakang ini saya hampir setiap hari menyempatkan diri untuk pergi ke gym. Entah kenapa saya suka merasa bersalah terhadap tubuh saya apabila satu hari saja saya tidak berolahraga *addicted kah??*.
Hal ini saya lakukan bukan karena saya kecanduan olahraga atau karena memikirkan angka di timbangan supaya tetap stabil atau berkurang, tetapi saya memang harus rutin berolahraga. Karena saya teringat pesan Ayah saya yang mengharuskan saya untuk menjaga kadar gula darah dalam tubuh, mengingat Almarhumah Ibu saya mengidap penyakit diabetes yang menurut kedokteran itu bisa menurun.
Namun saat ini, saya tidak ingin menceritakan masalah tubuh dan juga penyakit, melainkan saya ingin menceritakan cerita tentang senior-senior saya di gym {baca : member lama}.
Ceritanya begini, waktu itu saya sedang asyik treadmill, entah kenapa saya malas sekali memakai earphone yang berisi musik pilihan saya. Earphone ini memang sengaja dipakai karena kebetulan saya kurang satu selera dengan musik di tempat gym *ya iyalah masa lagi lari backgroundnya lagu Anggun C Sasmi yang melow *, tetapi selain itu saya juga enggan mendengarkan “rumpian” sana sini yang membuat saya tidak konsen lagi berolahraga :D.
Maka akibat kemalasan saya tidak memakai earphone, akhirnya mau tak mau terdengarlah pembicaraan yang terjadi di treadmill sebelah :
———————————————————————-
Girl 1 : Eh, besok datang gak ke kelas salsa?
Girl 2 : Besok?, besok kan hari rabu, loe gak salah apa?
Girl 1 : Emang kenapa?
Girl 2 : Besok tuh giliran si X yg jadi instrukturnya
Girl 1 : Oh iya, gw lupa, ogah deh kalau begitu
Kemudian mereka berdua cekikian, entah kenapa tiba-tiba si Girl 1 yang ada disebelah saya langsung menoleh ke saya dan bertanya :
Girl 1 : Hi Mei, kalau kamu suka ikutan salsa ya ma si X ?
Me : Ha? *setengah kaget gitu, karena sangat tidak berharap di ajak ngobrol :D*
Girl 1 : Iya, kamu besok ikutan kelas salsa ya
Me : Eh iya mba, kadang-kadang aja kalau sempet *ngeles*
Girl 1 : pasti kelasnya sepi ya kaya kuburan?
Me : Ha ? *kaget lagi, untung gak keplintir sepatu*
Girl 1 : maksudnya yang ikut gak banyak kan? paling gak lebih dari 10 orang
Me : Ehm..iya mba kadang-kadang gitu *jawaban yang sama, soalnya lagi konsen lari*
Girl 1 : Mei, kamu tahu gak kenapa kelasnya gak laku?
Me : Laku? *jualan krupuk kali, ditimpuk ma si Girl 1*
Girl 1 : iya, gak banyak yang datang.
Me : ooo..gak tahu mba “pasang muka bingung*
Girl 1 : Si X ini dulu tuh member sama dengan kita, trus karena dekat ma instruktur si Y (instruktur salsa yg lebih senior), makanya dia kepilih jadi instruktur juga di sini
Me : ooooo *masih pasang tampang bingung*
Girl 1 : makanya saya ogah tuh ikut kelasnya dia
Girl 2 : saya juga ogah *nimpalin secara tiba-tiba*
Me : oo gitu, eh mba-mba saya duluan ya udah cape banget niyy *ngibrittttt melarikan diri, padahal chalorie meter masih diangka 200*
—————————————————————–
Nah ini dia yang saya suka bingung, kenapa ya terkadang kita masih tidak mau berjiwa besar dan mengakui kelebihan ataupun keunggulan dari orang lain, walaupun pada awalnya kita berada di titik yang sama.
Menurut saya si X ini memang mempunyai potensi sebagai instruktur dibandingkan the Girls (1&2) karena bisa dilihat dari cara dia mengajar salsa. Selain itu saya juga dapat informasi bahwa di tempat gym ini tidak sembarang orang bisa jadi instruktur gara-gara dia hanya dekat seniornya, tetapi tetap melalui tes kredibilitas yang membuktikan bahwa dia mampu.
Sebagai manusia, saya menyadari begitu banyak kekurangan yang kita miliki. Namun yang paling egois menurut saya kekurangan manusia adalah tidak ingin mengakui kelebihan orang lain. Mengakui kelebihan orang lain tidak membuat diri kita rendah, namun membuat hidup ini jauh lebih INDAH karena kita bisa terhindar dari rasa iri hati dan juga sikap sombong :).



Jangan pikir ini post tentang pelajaran matematika, atau bagi yang suka jualan jangan anggap ini hitungan berapa keuntungan atau komisi ya hehehe…Tapi persentase ini cuma ingin mengingatkan saya kembali akan kata-kata teman saya sebelum saya menikah setahun yang lalu.
Matahari tepat di kepala saya saat ini, saya berencana pergi untuk sekedar window shopping namun ternyata digagalkan oleh dinginnya Air Conditioner yang melambai-lambai diruangan saya. Ketak-ketik, klik sana klik sini, akhirnya saya mendapatkan ide untuk menulis di siang hari ini.
Pada sebagian orang, menjadi TUA adalah suatu momok yang menakutkan. Sedangkan saya sendiri belum bisa membayangkan bagaimana saya pada saat tua nanti. Seperti pada perjalanan saya di pagi ini, saya melewati seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi roda dan dikelilingi beberapa orang di sekitarnya. Orang-orang tersebut adalah 1 orang suster wanita penjaga sang nenek dan 2 orang laki-laki yang duduk di sepeda motor. Ketiga orang tersebut dengan tekun mendengarkan sang nenek bicara, walaupun kedua laki-laki tersebut terlihat siap untuk berangkat ke suatu tempat. Namun karena ingin menghormati sang nenek yang sedang bicara, kedua laki-laki itupun tidak berani untuk beranjak.